PADANG LAWAS – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa sekolah yang disalurkan melalui dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polres Padang Lawas menjadi sorotan publik. Pasalnya, menu yang dibagikan pada Kamis (26/2) tersebut diperuntukkan sekaligus untuk jatah tiga hari (Kamis, Jumat, dan Sabtu), sehingga memunculkan pertanyaan terkait kesesuaian porsi dan nilai gizinya.

Berdasarkan pantauan di lapangan, setiap siswa menerima satu kantong berisi satu porsi bubur kacang hijau, satu bungkus roti, dua bungkus roti Marie Regal ukuran rentengan, dua kotak susu rasa stroberi, serta tiga buah salak—dengan rincian satu buah per hari.

Sejumlah pihak mempertanyakan kecukupan gizi dari menu tersebut, terutama ukuran buah salak yang dinilai relatif kecil untuk konsumsi anak selama tiga hari. Selain itu, muncul pula pertanyaan mengenai kesesuaian anggaran dengan porsi yang diterima siswa. Diketahui, anggaran program ditetapkan sebesar Rp10.000 per anak per hari atau Rp30.000 untuk tiga hari.

Menanggapi hal itu, Kepala SPPG Polres Padang Lawas, Sya’ban Ansori, membenarkan bahwa paket makanan tersebut memang dibagikan untuk kebutuhan tiga hari sekaligus. Ia menegaskan bahwa komposisi menu dan perhitungan biaya telah disesuaikan dengan ketentuan anggaran.
“Bubur Rp7.000, roti Rp5.000, salak tiga buah Rp6.000, susu Rp8.000, dan roti Regal Rp4.000. Totalnya Rp30.000 untuk tiga hari. Jadi di mana masalahnya?” ujar Sya’ban saat dikonfirmasi.
Ia menjelaskan, buah salak yang dibagikan merupakan jenis salak pondoh dengan kualitas baik, dibeli seharga Rp20.000 per 10 buah. Menurutnya, harga Rp6.000 untuk tiga buah sudah sesuai dengan harga pasar. Untuk bahan bubur kacang hijau, pihak dapur juga menggunakan santan kemasan bermerek.
“Kami belanja langsung di depan Bank Mandiri. Kalau tidak percaya, bisa saya tunjukkan tempatnya. Akuntan kami yang belanja langsung,” tambahnya.
Meski demikian, pihak SPPG menyatakan terbuka terhadap masukan dan akan melakukan evaluasi untuk perbaikan ke depan, khususnya terkait pengelolaan harga dan kualitas penyajian. Namun, Sya’ban menegaskan bahwa menu yang dibagikan saat ini telah sesuai dengan standar pemenuhan gizi dan anggaran yang tersedia.
Program MBG sendiri merupakan bagian dari upaya pemenuhan kebutuhan gizi anak sekolah. Evaluasi dan pengawasan berkala diharapkan dapat memastikan program berjalan optimal serta tepat sasaran.(DsP)
